Dia ada di samping ku

February 25th, 2007 by sundoroagung

Sabtu siang itu, aku baru saja mendapatkan tanda tangan kedua pembimbing untuk lembar pengesahan skripsiku. Hati ini penuh dengan rasa senang dan syukur atas karunia Rabb yang tak ternilai ini. Tak ingin ku sia-siakan waktu, langsung ku berwudhu dan bersiap untuk shalat Dzuhur karena waktu hampir memasuki waktu shalat Dzuhur.

Setelah adzan Dzuhur berhenti terdengar, segera ku memulai shalatku untuk menghadap-Nya dan bersyukur kepada-Nya. Di tengah shalatku, ada seseorang yang menepuk bahuku untuk menjadi makmum masbuk. Dan seperti biasanya, ku teruskan shalatku hingga selesai.

Selesai shalat, tak lupa ku berdoa dan bersyukur atas nikmat-nikmat yang telah diberikan-Nya kepada ku hingga saat ini, termasuk nikmat dipermudah dalam tugas akhir ini. Salah satu kalimat syukurku, "Ya ALLAH, terimakasih Engkau telah memberikan kemudahan kepada ku untuk menyelesaikan Tugas Akhir ini. Dan terimakasih telah memberikan kedua pembimbing yang mempermudahku". Lalu doa kulanjutkan hingga selesai.

Setelah selesai berdoa, orang yang menjadi makmum-ku telah selesai shalat dan sedang berdoa. Ketika hendak mengajaknya bersalaman,,,………
n_n’
ternyata orang yang kusebut dalam doaku (pembimbingku), dia ada di samping ku…

Ujian Tiada Akhir

February 25th, 2007 by sundoroagung

BackkomchuteSejak kecil ku selalu menganggap ujian akan berakhir setelah kita menyelesaikannya, sehingga ku termotivasi untuk melaluinya. Tetapi setelah menjalani hidup ini selama lebih dari 1/5 abad, cara pandang ku terhadap ujian berubah. Ujian bukanlah suatu masalah yang harus kita lewati, tapi merupakan suatu tahapan untuk menjadi lebih baik dan persiapan menuju ujian berikutnya yang lebih besar.

Sewaktu sekolah, rasanya senang sekali ketika telah selesai melewati ujian Caturwulan (Zaman dahulu), karena bisa terlepas dari masalah tersebut untuk sesaat. Tak terpikir oleh ku bahwa di depan nanti akan ada ujian yang lebih berat lagi dibandingkan yang sekarang ku lewati. Dan tak pernah terpikir juga bahwa ‘kemerdekaan’ ini bersifat sesaat.

Sewaktu SMA, rasanya senang sekali menjadi anak kuliah. Dari apa yang kulihat, anak kuliah lebih santai, lebih merdeka dibandingkan anak sekolah. Anak sekolah harus belajar sekitar 4 hingga 9 jam selama 6 hari, mulai dari senin hingga sabtu, sedangkan ketika kuliah banyak sekali waktu kosong. "Nikmatnya" ujarku. Namun pandangan itu berubah setelah ku berada di bangku kuliah. Saat kuliah, ujian yang dihadapi lebih berat karena harus pintar dalam mengatur waktu, mengatur hidup, dll. Masalah-masalah itu merupakan ujian yang tidak kita temukan saat sekolah.

Sewaktu kuliah, rasanya senang sekali lulus kuliah nanti. Dalam bayanganku, tiada lagi UTS, UAS, dan tugas-tugas yang selama ini mengisi hari-hari ku. Setelah lulus ku bisa mencari kerja dan mendapatkan uang dari hasil keringat sendiri. Tapi pandangan itu berubah ketika ku berada di pintu kelulusan. Kecemasan akan sempitnya lapangan kerja saat ini dan perubahan status dari mahasiswa menjadi pengangguran sementara terus membayangi pikiran ku. Inilah ujian berikutnya yang akan ku hadapi dan harus ku hadapi.

Begitu pun selanjutnya, ujian akan terus-menerus datang seiring dengan berjalannya hidup. Dan mungkin baru akan berhenti ketika kita ku sudah tidak berada di dunia ini lagi. Itulah ujian, sesuatu yang harus dihadapi untuk naik ke tingkat berikutnya dan untuk menghadapi ujian berikutnya yang lebih sulit lagi. Kini ku sadari bahwa Ujian Tiada Akhir.

Slamat Datang Ramadhan

September 14th, 2006 by sundoroagung

Gak terasa sudah hampir 11 bulan Qomariyah kita lalui, dan beberapa hari lagi kita akan kembali bertemu dengan bulan mulia, Ramadhan. Sebelas bulan itu kulalui begitu saja tanpa persiapan untuk bertemu dengan Ramadhan, begitu ruginya diri ini. Selain itu, Ramadhan tahun lalu pun tidak menggoreskan bekas terhadap 11 bulan lainnya. Betapa ruginya diri ini.

Apakah Ramadhan kali ini akan berjalan seperti biasanya? Apakah diri ini akan kembali merugi dengan membiarkan Ramadhan meninggalkan kita tanpa menggoreskan perubahan dalam diri ini? Apalagi belum tentu kita dipertemukan kembali dengan bulan Ramadhan tahun depan, bisa jadi Ramadhan kali ini merupakan Ramadhan terakhir untuk kita, dan bukan tidak mungkin kita tidak disampaikan kepada Ramadhan kali ini.

Kita disarankan untuk berdoa pada 2 bulan sebelum Ramadhan (red: Rajab dan Sya’ban): "Ya Allah, berkahilah kami pada Bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikanlah kami kepada Ramadhan". Yang mengajarkan kita untuk berdoa seperti ini adalah Rasulullah SAW. Walaupun beliau adalah manusia dengan akhlak mulia, dijamin terlindung dari dosa, dan telah dijamin akan masuk Syurga oleh Allah SWT, beliau sangat merindukan pertemuan dengan bulan suci Ramadhan.

Lalu bagaimana dengan kita umatnya? Yang masih bergelimangan dengan dosa-dosa. Yang tidak bisa terlepas dari dosa dan kesalahan. Apakah kita juga merasakan kerinduan yang sama dengan Rasulullah dalam menantikan kedatangan bulan suci Ramadhan?

So…prepare your self. Beberapa hari lagi Ramadhan akan mendatangi kita selama satu bulan penuh. Jangan sia-siakan kesempatan ini untuk memperoleh Magfirah dan RahmatNya. Jangan sampai kita termasuk orang-orang yang merugi.
Wallahu’alam

"Allahumma Baariklana Fii Rajaba Wa Sya’ban Wa Balighna Ramadhan"
"Marhaban yaa Ramadhan…Marhaban yaa Ramadhan…Marhaban yaa Ramadhan"

Mari sambut Ramadhan dengan kesucian hati.
Mohon maaf atas semua salah yang terucap
Mohon maaf atas semua khilaf yang terbuat

Maaf dari Anda adalah modal awal yang baik untuk Ramadhan kali ini menjadi lebih baik.

Penyakit Baru

September 14th, 2006 by sundoroagung

Sepertinya belum lama aku tinggal di rumah. Tetapi kini aku telah mengidap penyakit baru yang membuat produktivitas turun. Selain itu, penyakit ini juga berimbas menurunkan kesehatan fisik. Penyakit ini bernama "Tilu" (Tidur Mulu) yang akhir-akhir ini telah menginfeksi diri ini.

Apalagi sebentar lagi sudah akan masuk bulan Ramadhan. Banyak yang berpendapat bahwa tidur saat berpuasa adalah ibadah. Sudah terkena penyakit "Tilu" ditambah alasan bahwa tidur saat berpuasa adalah ibadah menyebabkan makin banyak lagi porsi tidur yang akan kujalani.

Semoga saja kebiasaan buruk ini hanya merupakan proses adaptasi dengan suasana rumah, karena akan rugi besar jika kebiasaan ini masih berlanjut sampai bulan Ramadhan. Bulan Ramadhan adalah bulan untuk mengumpulkan amal shalih sebanyak-banyaknya, bukan untuk memperpanjang durasi tidur. Karena suri tauladan kita, Rasulullah SAW, pun yang oleh 4jj1 telah dijamin akan dimasukkan ke dalam surga, masih mengharapkan agar disampaikan umurnya sampai bulan Ramadhan. Apalagi kita yang masih berselimuti dosa-dosa yang tidak terkira jumlahnya.

Mari kita bersama-sama mempersiapkan diri menyambut datangnya bulan mulia (red:Ramadhan) yang sebentar lagi akan datang mengunjungi kita selama sebulan. Jangan biarkan ia datang dan pergi begitu saja tanpa meninggalkan sesuatu perubahan bagi diri kita. Dan juga jangan sampai penyakit "Tilu" mengurangi kuantitas amal shalih kita di bulan Ramadhan.
Amiin.

Komputerku, Pulang Yuk…

September 7th, 2006 by sundoroagung

Hari itu merupakan hari yang paling melelahkan bagiku. Hari itu merupakan hari terakhirku di kosan, dan harus segera memindahkan barang-barang kembali ke rumah ‘tercinta’. Dari segi barang, saya tidak terlalu memiliki banyak barang, sehingga mudah saja untuk pindahan ke rumah. Tapi beberapa bulan yang lalu, saya membawa komputer dari rumah ke kosan, sehingga sekarang saya harus mengangkutnya kembali ke rumah. Berhubung minimnya dana dan keterbatasan fasilitas, komputer saya angkut sekaligus tanpa kendaraan pribadi, tanpa carter kendaraan umum, dan tanpa seorang teman di samping ku …… T-T

Ceritanya berawal disini. Monitor di tangan kiri, casing beserta isinya di tangan kanan, dan perangkat sisanya (papan kunci / keyboard, tetikus/mouse, stabilizer, dkk) dibawa di dalam tas. Kebayangkan beratnya…

Berangkat dari kosan masih lancar, alhamdulillah. Karena jam 9-an angkot dari kosan menuju terminal angkot Bubulak banyak yang kosong. Langsung saja ku ambil tempat paling pojok, biar tidak mengganggu ‘pergerakan’ para penumpang lainnya. Perjalanan dari kosan ke Bubulak dapat kujalani tanpa kesulitan. Karena membawa barang jadi saya membayar angkot untuk dua orang (satu orang dan satu tempat untuk barang). Tiba di Bubulak, perjuangan berikutnya. Membawa kedua kardus dan tas yang memiliki berat layaknya batu dari tempat pemberhentian terakhir angkot yang kunaiki ke tempat ‘mangkal’ angkot berikutnya. (Kalau saja ada yang rela menolongku saat itu, pasti ku memilih untuk pingsan. Ya, alhamdulillah masih diberikan kekuatan oleh Yang Maha Kuasa. ) Ku pilih angkot yang masih sepi, karena sulit untuk memasukkan kedua kardus dan diriku ke dalam angkot yang telah dipadati oleh penumpang.

Di angkot berikutnya kondisinya berbeda jauh dari sebelumnya. Karena angkot ini ‘ngetem’, maka penumpangnya pun ditunggu hingga penuh. Akhirnya saya memutuskan untuk mengambil tiga tempat untuk saya dan barang. Kasihan penumpang yang lain jika saya dan barang hanya dihitung untuk dua tempat. Disini terjadi miss-communication antara saya dan calo angkot. Dia pikir barang tidak dihitung sama sekali, sehingga dia memaksakan untuk mengisi angkot dengan formasi 6-4. Ini juga karena kesalahanku yang tidak mengatakan bahwa barang ikut dihitung. Akhirnya saya mengatakan bahwa barang dihitung dua tempat (berarti jika ditambah saya menjadi tiga tempat). Masih saja terjadi miss-communication dengan calo. Dia mengira bahwa saya dan barang dihitung dua tempat. Puuuusssssiiiiiingggg. Akhirnya sang calo membentuk formasi 5-4, yang berarti barang hanya dihitung satu tempat. Akhirnya ada satu orang yang menjadi korban miss-communication antara saya dan calo angkot. Sampai di terminal Baranangsiang, Bogor, saya langsung disambut laksana tamu penting oleh beberapa orang yang berprofesi sebagai kuli panggul. Karena memang saya membutuhkan dan timbul perasaan tidak enak untuk menolak, maka saya gunakan jasa angkut dari salah satunya.

Sampailah saya pada Bus "Laju Utama" jurusan Bogor-Bekasi via UKI. Kedua kardus saya masukkan ke dalam bagasi Bus, dan masalah selesai untuk sementara waktu. Yang menjadi pertanyaan bagi saya adalah apakah barang-barang yang diletakkan didalam bagasi ikut kena biaya. Karena saya pernah dua kali menggunakan fasilitas bagasi Bus tidak pernah kena biaya. Dan yang ketiga kali (red:yang sekarang ini), saya dikenakan biaya bagasi sebesar Rp. 4000,- dari Bogor sampai Bekasi. Ini pungutan resmi dari PO Bus yang bersangkutan, atau pungutan liar dari oknum kondektur Bus?

Sesampainya di Bekasi, saya menunggu Bapak yang sebelumnya sudah saya minta untuk menjemput saya di terminal Bekasi. Untuk mengurangi beban bawaan dari terminal ke rumah. Alhamdulillah, monitor bisa diangkut oleh Bapak ku, sehingga saya hanya tinggal membawa casing dan tas. Angkot dari terminal menuju rumahku agak sepi, sehingga tidak kesulitan dalam mengatur barang bawaan.

Alhamdulillah saya sampai di rumah dengan selamat tanpa kekurangan sesuatu pun, kecuali uang. Karena uang pasti banyak dikeluarkan sepanjang jalan. Mungkin ceritanya terlalu panjang. Ada yang mau baca gak ya?

Hanya sekedar ingin membagi pengalaman dalam angkut mengangkut. Moga pengalaman ini dapat berguna bagi pembaca. Pesan saya "Jangan sampai miss-communication dengan calo angkot, kasihan penumpang lainnya".

Gadis Yang Ter-Dzalimi

September 7th, 2006 by sundoroagung

Ada satu hal yang sangat kuingat pada saat memindahkan komputer dari kosan ke rumah. Yaitu saat di angkot 03 jurusan Bubulak-Baranangsiang. Karena kesalahan teknis, barang bawaanku yang seharusnya dihitung dua tempat, tapi malah dihitung satu tempat sehingga merugikan penumpang lain. Angkot ini diisi penumpang dengan formasi 5-4.

Ada satu penumpang yang paling dirugikan karena tidak mendapatkan tempat duduk, dia hanya duduk mungkin tidak sampai seperempat dari posisi duduk yang seutuhnya. Dia adalah (sesosok gadis gak cocok, seonggok gadis juga gak cocok, seekor gadis apalagi,…ya seorang gadis muda belia….) seorang gadis belia. Sungguh tidak tega melihat penderitaan yang diterimanya. Apalagi itu disebabkan karena aku semata. (Koq jadi puitis goblok gini y…) Coba Anda bayangkan jika berada di posisi dia, harus menahan penderitaan itu mulai dari Bubulak hingga Merdeka. Betapa malangnya gadis itu.

Akhirnya setelah mendapat kesempatan untuk berbicara dengannya, saya meminta maaf atas kesalahan itu. Saya men-dzalimi-nya. Saya takut di akhirat kelak, dia akan menuntut balas atas ke-dzalim-an yang telah kulakukan padanya jika tidak mendapatkan maaf darinya. Lalu sebagai ganti rugi, ongkos angkotnya dari Bubulak sampai Baranangsiang saya tanggung. Mudah-mudahan ini dapat mengobati penderitaannya.

Aku tak tahu apa yang kulakukan salah atau benar. Yang jelas itulah yang diperintahkan oleh hati kecilku. Just the Way I am. Tapi sayangnya, saya belum sempat mengenal siapa nama gadis itu, dimana rumahnya, nomor telponnya, statusnya (lho koq jadi merembet ya :D). Tapi buat apa juga. Memang tidak perlu, yang penting urusan sudah selesai. Mudah-mudahan, kalau kita jodoh pasti dipertemukan kembali….

See U…Gadis Yang Ter-Dzalimi

Pantaskah…?

August 30th, 2006 by sundoroagung

Pantaskah kita bersikap kasar terhadap kedua orang tua?
Saya yakin 100% dengan jawaban saya, yaitu tidak pantas seorang anak bersikap kasar terhadap kedua orang tuanya.

Adakah suatu alasan yang memperbolehkan kita bersikap kasar terhadap kedua orang tua?
Jika ada tolong beri tahu ku!

4jj1 berfirman di dalam Al-Quran Surat Luqman ayat 14-15.
[31.14] Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun.  Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. 
[31.15] Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.

Dari kedua ayat di atas, jelaslah bahwa kita harus berbuat baik terhadap kedua orang tua dan tidak ada alasan yang membenarkan untuk bersikap kasar terhadap keduanya.

Masihkah ada tersisa sedikit kelembutan dan senyuman di dalam dirimu? Jika ku memiliki kelembutan dan senyuman terakhir, kan kupersembahkan itu untuk kedua orang tua ku.

Jadi…mohon maaf lah kepada orang tua kita, jika pernah berbuat kasar terhadapnya. Jangan pernah menundanya hingga Idul Fitri tiba, karena kita takkan pernah tahu batas umur manusia. Sudahkah Anda?

Time to say goodbye!!!

August 29th, 2006 by sundoroagung

Gak terasa, dah setaun gw kos. Berarti skrg dah waktunya tuk berkemas n’ cabut dari kosan.
:(

Males, berat, sedih n’ byk lagi perasaan yang muncul. Coz gw mesti packing, beres2 kosan, angkut2 barang, berpisah dgn tmn2, ninggalin lingkungan yg m’buat gw nyaman, dlllll. Di kosan, gw ketemu berbagai jenis manusia yang aneh2 (#include gw.jg), but, justru itu serunya… Penghuni kosan gw heterogen bgt, mulai dari manusia, semut, tikus (klo malem suka patroli), makhluk yg alus2 yg slalu ada stiap saat (gw yakin t4 lo pada jg ada), dst.

Temen2 kos gw bener2 beragam jenisnya, mungkin Covariance-nya kecil bgt, hampir mendekati nol. Ada yang pernah berkeluarga, ada yang dah kerja, ada yang CoMet (Cowok Metro), ada yang kalong, ada yang tukang lari (tapi bukan maling). Justru karena perbedaan ini gw dapet banyak pengalaman yang berharga, yg mungkin ini bakal jadi bekal hidup gw kelak…  n_n

Kemaren gw sempet mikirin satu hal. Knapa gw gak pernah satu kosan sama anak ILKOM (baik 39, maupun angkatan lainnya)?

Mungkin ini smua hanya kebetulan aja, gw berharap sih gitu. Gw gak pernah menghindar tuk sekosan, tp slalu Takdir 4jj1 nentuin kyk gini. Mulai dari tingkat dua di BS, gw ketinggalan temen2 yg dah pada dapet kos. So….gw nyari sendiri. Trus,…masuk tingkat 3 kembali ke Dramaga, gw ketinggalan lagi cari kos. Yo Wis, sendiri lagi. Lalu….masuk tingkat 4, dQaKa msh aja penuh…jd gw cari kontrakan sama tmn2 kos gw yg lama.

Selain Ucapan selamat tinggal utk kosan gw, mungkin gw jg hrs ucapin Met tinggal utk Bogor, coz gw dah gak kos lagi, walaupun masih ngelaju Bogor-Bekasi. Kenapa masih ngelaju? Karena skripsi gw blm kelar…. T-T

Doain ya Bro…biar gw cepet lulus….