Gadis Yang Ter-Dzalimi
Ada satu hal yang sangat kuingat pada saat memindahkan komputer dari kosan ke rumah. Yaitu saat di angkot 03 jurusan Bubulak-Baranangsiang. Karena kesalahan teknis, barang bawaanku yang seharusnya dihitung dua tempat, tapi malah dihitung satu tempat sehingga merugikan penumpang lain. Angkot ini diisi penumpang dengan formasi 5-4.
Ada satu penumpang yang paling dirugikan karena tidak mendapatkan tempat duduk, dia hanya duduk mungkin tidak sampai seperempat dari posisi duduk yang seutuhnya. Dia adalah (sesosok gadis gak cocok, seonggok gadis juga gak cocok, seekor gadis apalagi,…ya seorang gadis muda belia….) seorang gadis belia. Sungguh tidak tega melihat penderitaan yang diterimanya. Apalagi itu disebabkan karena aku semata. (Koq jadi puitis goblok gini y…) Coba Anda bayangkan jika berada di posisi dia, harus menahan penderitaan itu mulai dari Bubulak hingga Merdeka. Betapa malangnya gadis itu.
Akhirnya setelah mendapat kesempatan untuk berbicara dengannya, saya meminta maaf atas kesalahan itu. Saya men-dzalimi-nya. Saya takut di akhirat kelak, dia akan menuntut balas atas ke-dzalim-an yang telah kulakukan padanya jika tidak mendapatkan maaf darinya. Lalu sebagai ganti rugi, ongkos angkotnya dari Bubulak sampai Baranangsiang saya tanggung. Mudah-mudahan ini dapat mengobati penderitaannya.
Aku tak tahu apa yang kulakukan salah atau benar. Yang jelas itulah yang diperintahkan oleh hati kecilku. Just the Way I am. Tapi sayangnya, saya belum sempat mengenal siapa nama gadis itu, dimana rumahnya, nomor telponnya, statusnya (lho koq jadi merembet ya :D). Tapi buat apa juga. Memang tidak perlu, yang penting urusan sudah selesai. Mudah-mudahan, kalau kita jodoh pasti dipertemukan kembali….
See U…Gadis Yang Ter-Dzalimi